Pengaruh Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap Kesehatan Mental Remaja

Annisa Hanung Putri Zahra

“Aku sehat kok, ngapain harus ikut CKG segala?”, “Ih takut.. kalau disuntik gimana?”, “Nanti dikatain penyakitan gimana?”

Jujur saya sering dengar dari teman-teman di sekolah. Awalnya saya pikir hanya segelintir orang saja yang takut atau menganggap cek kesehatan itu tidak penting. Namun ternyata, masih banyak pelajar yang kurang peduli terhadap kondisi kesehatannya sendiri. Padahal yang terlihat baik baik saja belum tentu sehat dalamnya.

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di salah satu puskesmas di Kota Surakarta. Saya terlibat langsung dalam kegiatan Cek Kesehatan Gratis untuk anak-anak dan dewasa. Saya membantu mengukur tinggi badan, berat badan, lingkar lengan, dan lingkar perut, serta membantu mengecek tekanan darah. Lalu, saya juga pernah membantu Cek Kesehatan Gratis di salah satu SMP di Surakarta. Saya melihat siswa-siswi sangat antusias, namun ada juga yang mengeluh karena malas diperiksa. Bahkan, beberapa siswa menangis karena takut disuntik. Padahal, pemeriksaan yang dilakukan tidak semenakutkan itu. Siswa hanya diperiksa tekanan darah, tinggi dan berat badan, mata, pendengaran, mulut, gigi hingga mengisi beberapa pertanyaan sederhana mengenai kondisi fisik dan mental. Karena pada saat itu, bertepatan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Maka diberi juga vaksin HPV (Human Papillomavirus) bagi siswa kelas 9 yang belum di vaksin HPV.

Saat proses pemeriksaan berlangsung ditemukan ada siswa yang ternyata mengalami gangguan penglihatan tetapi selama ini tidak menyadarinya karena sudah terbiasa melihat tulisan papan tulis dengan samar. Ada juga yang diketahui memiliki tekanan darah kurang stabil akibat pola tidur yang berantakan dan terlalu sering mengonsumsi snack yang mengandung garam tinggi. Bahkan, salah satu siswa harus dirujuk karena diagnosis mengalami kecemasan mental. Usut punya usut, siswa tersebut tumbuh di lingkungan yang keras dan dingin. Orang tuanya selalu menekan dia untuk jadi yang pertama dalam hal apapun dan itu membuatnya tertekan.

Inilah yang menjadi alasan utama mengapa Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Sekolah tidak boleh dianggap sepele. Selama ini banyak orang mengira kesehatan remaja hanya sebatas fisik padahal kesehatan mental juga memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan pelajar. Remaja yang terlihat ceria belum tentu baik-baik saja. Tidak sedikit siswa sebenarnya sedang lelah secara mental tetapi memilih diam karena takut dianggap kurang bersyukur, lebay, atau hanya mencari perhatian.

Saya merasa, lingkungan sekitar sering kali terlalu fokus pada prestasi dibanding kondisi mental remaja khususnya siswa. Nilai harus bagus, harus ranking 1 paralel, aktif organisasi, dsb. Tanpa sadar, tekanan seperti itu membuat remaja tumbuh dengan rasa takut gagal dan takut mengecewakan orang lain. Akibatnya, mereka memendam stress sendirian. Bahkan, beberapa remaja mulai kehilangan rasa percaya diri, sulit tidur, mudah cemas, hingga merasa tidak berharga. Yang lebih memprihatinkan, kesehatan mental masih sering dijadikan bahan bercandaan. Ketika ada teman yang mulai pendiam atau menarik diri dari lingkungan sosialnya. Sebagian orang malah mengatakan “lebay banget” atau “lemah iman”. Lebih parahnya lagi malah ada yang berpikir kalau anak tersebut terkena santet atau guna-guna. Sungguh pemikiran yang sangat kolot.

Ironisnya, anggapan tersebut terkadang justru datang dari lingkungan terdekat, termasuk orang tua kita sendiri. Padahal, seharusnya keluarga menjadi tempat paling aman bagi anak untuk bercerita, mengekspresikan perasaan, dan mencari dukungan. Jika respons yang diberikan justru berupa tekanan, penolakan, atau penghakiman. Hal tersebut dapat meninggalkan trauma yang mendalam pada remaja. Karena itu, menurut saya CKG bukan hanya program pemeriksaan kesehatan biasa tetapi juga menjadi deteksi awal mengenai kondisi mental remaja sejak dini. Dengan adanya kalimat sederhana seperti “Bagaimana harimu hari ini?”, atau “I’m so proud of you,” setidaknya siswa merasa bahwa “aku ternyata seberharga itu ya di mata orang lain.” Ini jadi fondasi awal untuk keluar dari masalah mental yang menyebalkan ini. Namun tentu saja, mengatasi masalah kesehatan mental remaja tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. orang tua, guru, teman sebaya, bahkan lingkungan sekitar harus ikut berperan.

Orang tua perlu belajar menjadi tempat cerita yang nyaman bagi anak, bukan hanya tempat menuntut hasil. Guru juga perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa karena terkadang siswa yang nilainya menurun bukan berarti malas tetapi bisa jadi sedang mengalami tekanan mental. Sementara itu, teman sebaya juga harus belajar saling mendukung dan berhenti menjadikan kondisi mental seseorang sebagai bahan ejekan. Intinya stop bullying ya guys. Selain itu, saya juga berharap sekolah lebih sering mengadakan edukasi mengenai kesehatan mental remaja. Banyak siswa sebenarnya ingin bercerita tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Dengan adanya sosialisasi atau konseling yang rutin, siswa sadar bahwa merasa sedih, lelah, atau cemas bukanlah sesuatu yang memalukan dan itu sangat manusiawi. Yang terpenting adalah berani mencari bantuan dan tidak memendam semuanya sendiri.

Dari pengalaman mengikuti kegiatan CKG ini, saya menyadari bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar tentang berobat ketika sakit tetapi tentang keberanian untuk mengenali dan memahami kondisi diri sendiri sejak dini. Banyak orang terlihat baik-baik saja, (di luar tetap tersenyum, datang ke sekolah seperti biasa) tetapi di dalam dirinya sedang berjuang sendirian menghadapi kelelahan fisik maupun tekanan mental yang tidak pernah benar-benar dipahami orang lain. Melalui program ini, saya belajar bahwa satu pemeriksaan sederhana ternyata bisa menjadi penyelamat bagi seseorang. Kadang yang dibutuhkan remaja bukan hanya obat, tetapi juga perhatian, pendampingan, dan lingkungan yang mau mendengar tanpa menghakimi, karena sejatinya luka yang tidak terlihat sering kali jauh lebih berbahaya dibanding luka fisik.

 

Leave a Comment